Blogger Widgets

Social Icons

Pages

Minggu, 11 Mei 2014

CERPENKU



ANAK LAKI-LAKI KU
PEMBAWA SIFAT BURUK SUAMIKU
Seperti biasa pagi nan indah menyambut setiap insan yang terbangun dari tidur nya. Mentari seakan tersenyum senang memperlihatkan sinarnya yang menyinari setiap hidup yang ada di bumi. Aku membuka jendela, terlintas dalam benak aku ingin seperti burung – burung di padi hari yg selalu melantunkan suaranya setiap pagi meski itu berbeda-beda bunyinya. Aku, seperti biasa merapikan tempat tidur. Dan bergegas layaknya seorang istri menyiapkan segala seuatunya buat suami dan anakku. Anak sulung ku yang baru berusia 5 tahun dan yang tidak lama lagi akan di hadiri seorang adik yang masih samar-samar jenis kelaminnya karena jarang di USG seperti ibu-ibu yang lainnya.  “pak, ayo bangun,sudah pagi!”. Suami ku bangun dan seperti biasa dia akan bekerja. Suamiku memiliki cukup luas tanah yang isinya pohon kelapa sawit, dan beliau memiliki cukup banyak karyawan. Setiap pagi ia memantau karywan-karyawannya. Hanya itu saja, dan sesekali ia pergi menyelesaikan sebuah bisnisnya. suami ku terkenal ramah namun sedikit tegas dan pelit.setiap harinya ia jarang pulang. Aku tidak tahu kemana ia pergi. Perubahan suamiku datang semenjak aku mengandung anak keduaku. Aku mengandung sudah 6 bulan, malam itu ia tidak pulang dari pagi sampai pagi kembali, suami ku belum pulang juga.
“pak, bapak dari mana satu malam tidak pulang?”
“aku kerja!”.. Dua kata yang beliau jawab pada ku. Beliau tak seperti dulu, hangat, tidak mengecewakan, ia hanya menjawab dingin yang membuat aku semakin bertanya-tanya padanya. Malam itu malam yang paling mencekam buat ku, seakan gelap malam sedang mempermainkan hidupku, seakan malam itulah aku akan menghadapi banyak masalah. Aku tidak tau berbuat apa, aku hanya bias diam dengan jawabannya, aku hanya berpikir yang positif tentang nya meskipun seribu tanya yang ada di hati yang ingin di ketahui jawabanya dari mana suamiku?.
Hari demi hari, minggu, bulan, kanduangku semakin hari semakin besar, di situ juga suami ku semakin berubah. Aku melahirkan anak keduaku tepat bulan desember tanggal 31 pagi hari. Aku bahagia, di keluarga kecilku aku di karuniai sepasang anak laki-laki dan perempuan. Tepat di tahun baru, suami ku mengundang seluruh temannya merayakan kelahiran anakku. Ia mengundang semua rekannya laki-laki perempuan yang dia bilang temannya. Minum, Makan, tertawa bersama itulah yang memenuhi seluruh isi rumahku. Begitu juga kedua mertua ku.
“selamat buat kalian, udah lahir anak laki-laki buat kalian…”
“iya mak,pak..terima kasih!”
“siapa nama anak kalian ini, udah ada nama yang di siapkan..?”
“udah mak,,siapa pak??? Aku bertanya pada suami ku.
“Immanuel, itu nama yang akan kami kasi ke bayi ini.”
Semua tertawa lebar bahagia setelah mendengar nama anak keduaku ini. Bahagiaku yang besar, anakku immanuael dan anak ku dian, aku terasa seperti manusia satu-satunya di bumi ini yang di karuniai kebahagian yang tak terhingga besarnya. Hari-hariku bersama kedua anakku di penuhi dengan hari-hari yang begitu istimewa. Kasih saying yang semakin terlihat di perlihatkan oleh suamiku yang begitu bahagia dengan kehadiran putraku. Begitulah seterus aku menjalani hidupku bersama keluarga kecilku.
***
Anak pertamaku semakin besar dan terlihat seperti sudah menjadi seorang gadis. Anak ku yang kedua kian bertambah besar, namun kebahagian seperti nya mulai memudar ku rasakan, tak sehangat seperti sebelumnya, tak seindah seperti yang sudah-sudah. Aku semakin terpuruk dalam kesedihan seakan ingin kembali kedalam kehangatan yang selama ini pernah kurasakan dan ku alami.
Seperti biasa dan semakin parah suamiku tak pernah pulang, aku tidak tahu apa yang ia lakukan di luar sana. Ia pulang dua hari sekali tanpa memberi tahu kami kemana dan apa yang sedang ia lakukan di luar sana. Kedua anakku sudah tertidur ketika suamiku pulang setelah dua hari tidak pulang.
“pak, bapak dari mana sebenarnya?? Kenapa bapak tidak kasih tau mama, mama kawatir..!”
“bapak kan sudah bilang bapak bekerja!! Sudah, tidur sana!”
Kenapa begini, aku bertanya dalam hati ku yang paling dalam. Pagi sekali ia bangun seperti biasa aku menyiapkan kopi untuknya dan menyiapkan sarapan bagi anaku juga. Kala itu suamiku hanya diam saja, tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia meminum kopinya setelah itu ia pergi tanpa mengatakan apa pun. Anaku dian yang sedang makan menatapnya seakan ingin mnanyakan sesuatu yang ia tidak berani mengungkapkannya. Tatapan matanya seperti memiliki banyak pertanyaan yang ingin di ucapkannya.
“ma, bapak kenapa?? Kok pergi gitu aja? Mama sama bapak kelahi ya??”
“enggak kok nak, mungkin bapak itu lagi capek ngurusin pekerjaannya, makanya dia kayak gitu. Udah cepat habisin sarapanya,, nanti terlambat kesekolah….!!”
“iya ma…”

Tak ada yang bisa ku lakukan, aku selalu berpikir positif tentang suamiku. Dalam pikiran ku aku selalu memikirkan hal-hal positif tentang suamiku, ‘dia sibuk, dia gak pulang karena dia sibuk. Dia kan selama ini banyak kerjaan, paling dia menyelesaikan pekerjaanya’ kata-kata itulah yang selalu keluar dari pikiranku. Malam ini aku tidur sendiri lagi, suamiku seperti  sebelumnya tidak pulang. Tapi aku tetap berpikir positif, aku percaya suamiku menyayangi aku dan anak-anak ku. Hari demi hari seperti itu terus, tak pulang, selalu marah-marah dan berani main tangan terhadapku.
Entah apa salahku, entah karma apa yang ku jalani, entah dosa apa yang sudah kulakukan dulu sehingga aku menanggungnya hari ini, suatu malam,tepat di malam minggu suamiku dirumah, ia mengatakn padaku kalau dia akan kedatangan teman-teman sekerjanya. Berkata seperti itu aku menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan teman-temannya, aku masak, buat makanan ringan, menyiapkan minuman. Aku membersihkan rumah sebersih dan serapi mungkin agar teman suamiku merasa betah di rumahku.
“ma, nanti kawan ku mau datang, kata orang itu mau main aja, ngumpul-ngumpul..”
“oya, siapa itu pak?”
“nanti juga tau..”
“ ya udah, kalau gitu mama buatin makanan buat mereka dulu ya ..”


Sejam kemudian, terdengar suara motor, sekita 5 motor berhenti di depan rumahku, suamiku keluar menyambut teman-temannya yang sudah sampai. Mempersilahkan masuk yang kemudian aku juga ikut menyambut dan menyalami mereka satu persatu.
“wah, cepat nyampek nya. Masuk-masuk..! bgitulah suamiku menyapa mereka
Aku melihat ada 10 orang semua, 3 wanita dan 7 laki-laki, aku juga melihat mereka membawa makanan, yang entah dalam acara apa aku tidak tau. Aku kemudian bergegas menyiapkan dan menghidangkan semua yang sudah kusiapkan di depan mereka.
“bung, ini istriku bung..”
“oh iya, hallo kak aku jhon temannya abang ini..”
“hehe iyaa, aku merry..”
“mana anak-anak kak..?”
“oh mereka udah tidur, biasalah kecapekan main tadi siang..”
“hahaha,, anak-anak memang seperti itu kak, sama lah kayak anak ku..”
Aku ngbrol sebentar dengan temannya, lalu kembali lagi kedapur karena aku tak ingin mengganggu kesenangan suamiku.
Di sudut dinding di pojok ruang tamuku, aku melihat ada seorang wanita, yang aku tidak tau siapa namanya, dia hanya memandangku dengan ramah, ia senyum kepadaku, ia menhampiriku dan membantu ku menhidangkan makanan.
“ sini kak, aku bantu ya,, aku dewi kak..
“oh, iya, terima kasii, aku merry..”
Ia membantuku sampai selesai sehingga tak sedikit kami gunakan juga untuk ngbrol, bertukar pengalaman, tertawa, suasana ceria lah waktu itu.
Seperti kukatakan tadi entah apa yang ku hadapi, entah karma apa yang kuterima, entah dosa apa yang sudah kulakukan dulu sehingga aku harus menanggungnya hari ini, malam semakin gelap. Jam sudah pukul 02-45, tetapi mereka belum pulang. Aku tidak melihat suami ku di mana, dia tidak ada di tengah-tengah teman-temannya yang sedang mabuk dan tertidur, ada juga yang muntah-muntah. Anak ku terbangun, dan untung nya ia tidur lagi karena aku tak ingin anakku mengetahui apa yang ada di luar sana. Suamiku, suamiku ntah di mana. Tak berpikir panjang aku menuju kamar ingin tidur. Seperti tersambar petir, seperti di lempari kotoran, seperti menerima penghianatan, jantungku berdegup kencang dan tak karuan, air mataku jatuh melihat kejadian di depan ku, bibirku gemetar, tubuhku gemetar, suatu hentakan dahsyat seperti menghantam kepalaku, darahku naik, semua tegang, semua kaku, hancur, kejadian yang ada di depan ku membuatku tak ingin hidup, aku melihat suamiku bercumbu dengan wanita itu, wanita yang sudah akrab dengan ku bahkan aku banyak cerita padanya. Bergelut layaknya suami istri melakukan hubungan dengan mesranya, di tempat tidurku, di tempat yang setiap malam ku habiskan dengan suamiku, di tempat aku dan suamiku bermanja ria, tertawa ria, bertengkar, yang  kemudian kami selesaikan di kamar ini, tempat yang kuhabiskan sehingga aku memiliki 2 anak sampai saat ini.
Di tempat itu, di tempat itu aku menyaksikan kesakitan hati yang membuat ku meneteskan air mata. Membuatku sakiiit, sakiiit yang tak tertahankan. Aku kuat kan tenagaku untuk mampu berjalan meninggalkan kamar, aku berjalan menuju sudut dapur, duduk di pojok dekat meja makan, di situ aku duduk menangis dan membayangkan kesakitan yang ku alami malam itu. Menangis, menangis menangis dan menangis saja yang dapat kulakukan. Apa salah ku, apa kurangku kenapa suami yang aku cinta, dan menyayangiku dan anakku, berubah seperti itu, kenapa?? Isak tangis ku memenuhi malam yang semakin gelap, karena tak ingin di dengar aku keluar rumah duduk kembali di belakang, jeritan hatiku ku luapkan di belakang rumah yang gelap dan banyak nyamuk. Aku duduk diam, kosong gak ada yang di pikirkan, sesekali air mataku jatuh, ingin sebenarnya marah, dan menampar dan mencaci maki itu perempuan, tapi gimana, toh itu juga keinginan suamiku, dan ketidak berdayaan ku. Dengan langkah yang berat aku menuju kamar anakku, ku baring kan tubuhku, ku peluk anakku kembali aku menangis, memikirkan suamik bersama wanita lain di kamarku dan suamiku. Sambil menahan kesakitan hatiku, aku mencoba tidur, meskipun hati berkecamuk di dalamnya.
Aku dengar suamiku dan wanita itu keluar kamar setelah beberapa jam. Aku hanya diam dan berpura-pura tidur ketika suamiku membuka pintu kamar anakku, mungkin ia ingin mengetahui aku di mana. Satu malam aku tidak tidur, pikiranku hanya pada suamiku, dan diriku sendiri, aku mencoba mencari kesalahan-kesalahan apa yang aku lakukan terhadap suamiku sehingga suamiku berani berbuat seperti itu kepadaku dan anak-anakku.
***
Anak-anakku semakin hari semakin besar, mereka sudah mengetahui mana yang salah dan mana yang benar. Hari-hari yang ku lewati semakin sulit, hidupku di penuhi kecurigaan terhadap suamiku sejak kejadian malam itu. Suamiku jarang pulang, main perempuan, aku sering di pukul, aku sering tidak di perhatikan, ia memiliki sebuah rumah yang jauh dari rumahku yang ia dapat dari seseorang karena tak sanggup membayar hutang-hutangnya. Di situ ia memiliki wanita yang sering dia bawa ke rumah itu.
Hari itu, suamiku sudah seminggu tidak pulang, aku curiga, ahir nya aku ngajak salah satu temanku untuk menemani ku pergi ke rumah yang di dapat suamiku, aku pergi dan masuk kedalamnya, hal menjijikan ku lihat di dalam rumah itu. Semua pakaian dalam berserakan di mana-mana. Aku mulai marah, aku melihat suamiku tidur di atas kursi. Aku mendatanginya dan untuk luapkan semua emosi yang sudah terpendam di hati ini,
“hei,, kayak gini ternyata kelakuan mu, dasar gak punya etika,  sadar pak, kau tu sudah punya istri dan anak. Kelakuan mu lebih rendah dari BINATANG. “
Banyak kata-kata yang ku keluarkan buat dia, emosi, sakit, sedih, nangis itulah ekspresi yang ku perlihatkan ke dia. Suamiku bangun dan menatapku tajam, dia tarik tangan ku dan membawaku pulang kerumah, anakku sedang bermain di depan rumah, sampai di dalam rumah, suami ku menamparku, memukulku, dia mengambil kipas angin dan dengan bejatnya di hantamkan kipas angin tersebut ke tubuhku. Aku menjerit, anakku menangis. Suatu pemandangan yang menyakitkan bagi anakku. Kemudian suami ku pergi, pergi entah kemana sehabis memukulku. Aku tidak tahan, aku datangi anakku Immanuel, aku memeluknya dan dalam pelukan itu aku dan anakku menangis. Karena tidak tahan dan ingin menyudahi semuanya, aku menelpon orang tua dan kakak ku di kampung. Dengan keadaan menangis ku ceritakan semuanya kepada kakakku.
“Hallo…!”
“hallo kak, ini aku. Apa kabar kakak di sana?”
“baik nya kami di sini mer, kenapa kau nelpon, kenapa juga sama suaramu itu.. ada masalah kau sama suamimu..”
“iya kak, gak tau lagi aku mau buat apa kak.”
“kenapa emangnya, cerita dulu..”
“yang ku tau kak, dari dulu Reno sayang sama ku kak, aku senang hidup sama dia. Tapi sejak nuel lahir, gak tau aku kenapa dia berubah. Di depanku dia dia berani melakukan hal yang gak wajar kak, jarang pulang, entah nginap di mana, marah-marah. Sakiiittt kak sakit kali kurasa.”
Dengan isak tangis yang mengharu aku menangis sejadi-jadinya lewat telpon dengan kakak laki-lakiku itu.
“apanya maksudmu, melakukan apa.. ngmong dulu yang jelas, jangan nangis gak bisa jelas aku dengar apa yang mu bilang..”
“kemaren dia di depanku kak sama perempuan lain melakukan hubungan. Bukan hanya sekali, udah berkali-kali di kayak gtu kak. Bantu aku kak, aku udah gak tahan, aku udah gak sanggup…!
“udah berkali-kali, knapa baru sekarang kau cerita sama kakak… kenapa?
“ aku pikir kemaren kak, aku bisa menahannya dan menyelesaikannya sendiri tapi ternyata malah makin sakit kak, makin sakit…”
“BODOH,, di mana suami mu sekarang.??”
“pergi kak..”
Kakak laki-aki ku marah, marah besar. Keesokan harinya ia menghubungi suamiku lewat telpon, aku gak tau apa yang mereka katakn sebagai laki-laki. Aku hanya mendengar cerita dari kakak ku. Ia mengatakan kata-kata yang sangat tidak sopan.
“udah ku hubungi kemarin suamimu yang kurang ajar itu. Tau kau apa yang di bilangnya..?”
“apa kak?”
“ dia bilang dia kayak gtu karena kau tak bisa memuaskannya. Bejat dia, tidak punya otak. Tak perlu kau melanjutkan lagi rumah tanggamu dengan nya, ceraikan dia..”
Aku bisa saja menceraikannya dan hidup sendiri, tetapi bagiaiman dengan anankku, bagaimana dengan anakku jika hidup tanpa bapakknya, apa kata teman-temannya kelak. Demi anak, aku mencoba kembali bertahan mempertahankan pernikahanku.
***
Suatu hari, di suatu malam, tiba-tiba anakku nuel demam tinggi, suami ku belum pulang, anakku nangis-nagis. Aku lari ke warung ntuk membeli obat, aku kompres, besoknya ku bawa dia ke puskesmas, pihak puskesmas mengatakan anakku hanya demam biasa yang kebanyakan anak-anak alami. Suamiku yang tahupun tidak peduli.
“ah, Cuma demam biasanya, gak papa itu, ntar juga sembuh..”
“ bapak koq gtu ngmongnya, ya walaupun demam biasa tapi itu berat untuk dia pak..”
“kasi aja obat, sembuh itu!!”

Sudah dua minggu anakku tidak sembuh-sembuh, aku semakin takut, badannya semakin kurus, suami ku lagi-lagi tak peduli, aku marah, aku hanya bisa menangis. Suamiku yang semakin parah kelakuannya membuatku semakin ingin mati, melihat anakku yang menderita membuatku semakin sakit. Aku ingin penyakitnya pindah ke tubuhku, aku tidak tahan melihat dia menderita seperti ini, gak tahan. Semua pengobatan sudah kulakukan, tapi semua mengatakan hanya demam, apa mereka BODOH!! Aku tidak terima hidup kayak gini, kenapa TUHAN berlaku tidak adil padaku.
Suamiku yang tidak pulang-pulang membuatku semakin marah, apa maunya, di mana kepeduliannya, di mana letak hati dan perasaannya, “anakmu sedang sakit pak, tolong perhatikan dia, dia anakmu, dia butuh kamu,,,”
Dengan di bantu orang tua dan mertuaku anakku nuel di bawa kerumah sakit untuk di opname, di opname agar tahu penyakit apa sebenarnya yang sedang dia alami. Aku menunggu dengan rasa kawatir yang tinggi, menunggu dalam kegelisahan, kesedihan mencekam karena kelakuan suamiku. Apa yang dapat kulakukan? Aku hanya diam, diam dan diam. Demi anak-anakku.

TO BE CONTINUE…..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates