ANAK LAKI-LAKI KU
PEMBAWA SIFAT BURUK SUAMIKU
Seperti
biasa pagi nan indah menyambut setiap insan yang terbangun dari tidur nya.
Mentari seakan tersenyum senang memperlihatkan sinarnya yang menyinari setiap
hidup yang ada di bumi. Aku membuka jendela, terlintas dalam benak aku ingin
seperti burung – burung di padi hari yg selalu melantunkan suaranya setiap pagi
meski itu berbeda-beda bunyinya. Aku, seperti biasa merapikan tempat tidur. Dan
bergegas layaknya seorang istri menyiapkan segala seuatunya buat suami dan
anakku. Anak sulung ku yang baru berusia 5 tahun dan yang tidak lama lagi akan
di hadiri seorang adik yang masih samar-samar jenis kelaminnya karena jarang di
USG seperti ibu-ibu yang lainnya. “pak,
ayo bangun,sudah pagi!”. Suami ku bangun dan seperti biasa dia akan bekerja.
Suamiku memiliki cukup luas tanah yang isinya pohon kelapa sawit, dan beliau
memiliki cukup banyak karyawan. Setiap pagi ia memantau karywan-karyawannya.
Hanya itu saja, dan sesekali ia pergi menyelesaikan sebuah bisnisnya. suami ku
terkenal ramah namun sedikit tegas dan pelit.setiap harinya ia jarang pulang.
Aku tidak tahu kemana ia pergi. Perubahan suamiku datang semenjak aku
mengandung anak keduaku. Aku mengandung sudah 6 bulan, malam itu ia tidak
pulang dari pagi sampai pagi kembali, suami ku belum pulang juga.
“pak,
bapak dari mana satu malam tidak pulang?”
“aku
kerja!”.. Dua kata yang beliau jawab pada ku. Beliau tak seperti dulu, hangat,
tidak mengecewakan, ia hanya menjawab dingin yang membuat aku semakin
bertanya-tanya padanya. Malam itu malam yang paling mencekam buat ku, seakan
gelap malam sedang mempermainkan hidupku, seakan malam itulah aku akan
menghadapi banyak masalah. Aku tidak tau berbuat apa, aku hanya bias diam
dengan jawabannya, aku hanya berpikir yang positif tentang nya meskipun seribu
tanya yang ada di hati yang ingin di ketahui jawabanya dari mana suamiku?.
Hari
demi hari, minggu, bulan, kanduangku semakin hari semakin besar, di situ juga
suami ku semakin berubah. Aku melahirkan anak keduaku tepat bulan desember
tanggal 31 pagi hari. Aku bahagia, di keluarga kecilku aku di karuniai sepasang
anak laki-laki dan perempuan. Tepat di tahun baru, suami ku mengundang seluruh
temannya merayakan kelahiran anakku. Ia mengundang semua rekannya laki-laki
perempuan yang dia bilang temannya. Minum, Makan, tertawa bersama itulah yang
memenuhi seluruh isi rumahku. Begitu juga kedua mertua ku.
“selamat
buat kalian, udah lahir anak laki-laki buat kalian…”
“iya
mak,pak..terima kasih!”
“siapa
nama anak kalian ini, udah ada nama yang di siapkan..?”
“udah
mak,,siapa pak??? Aku bertanya pada suami ku.
“Immanuel,
itu nama yang akan kami kasi ke bayi ini.”
Semua
tertawa lebar bahagia setelah mendengar nama anak keduaku ini. Bahagiaku yang
besar, anakku immanuael dan anak ku dian, aku terasa seperti manusia
satu-satunya di bumi ini yang di karuniai kebahagian yang tak terhingga
besarnya. Hari-hariku bersama kedua anakku di penuhi dengan hari-hari yang
begitu istimewa. Kasih saying yang semakin terlihat di perlihatkan oleh suamiku
yang begitu bahagia dengan kehadiran putraku. Begitulah seterus aku menjalani
hidupku bersama keluarga kecilku.
***
Anak
pertamaku semakin besar dan terlihat seperti sudah menjadi seorang gadis. Anak
ku yang kedua kian bertambah besar, namun kebahagian seperti nya mulai memudar
ku rasakan, tak sehangat seperti sebelumnya, tak seindah seperti yang
sudah-sudah. Aku semakin terpuruk dalam kesedihan seakan ingin kembali kedalam
kehangatan yang selama ini pernah kurasakan dan ku alami.
Seperti
biasa dan semakin parah suamiku tak pernah pulang, aku tidak tahu apa yang ia
lakukan di luar sana. Ia pulang dua hari sekali tanpa memberi tahu kami kemana
dan apa yang sedang ia lakukan di luar sana. Kedua anakku sudah tertidur ketika
suamiku pulang setelah dua hari tidak pulang.
“pak,
bapak dari mana sebenarnya?? Kenapa bapak tidak kasih tau mama, mama
kawatir..!”
“bapak kan sudah bilang bapak bekerja!! Sudah, tidur sana!”
Kenapa
begini, aku bertanya dalam hati ku yang paling dalam. Pagi sekali ia bangun
seperti biasa aku menyiapkan kopi untuknya dan menyiapkan sarapan bagi anaku
juga. Kala itu suamiku hanya diam saja, tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia
meminum kopinya setelah itu ia pergi tanpa mengatakan apa pun. Anaku dian yang
sedang makan menatapnya seakan ingin mnanyakan sesuatu yang ia tidak berani mengungkapkannya.
Tatapan matanya seperti memiliki banyak pertanyaan yang ingin di ucapkannya.
“ma,
bapak kenapa?? Kok pergi gitu aja? Mama sama bapak kelahi ya??”
“enggak
kok nak, mungkin bapak itu lagi capek ngurusin pekerjaannya, makanya dia kayak
gitu. Udah cepat habisin sarapanya,, nanti terlambat kesekolah….!!”
“iya
ma…”
Tak ada yang bisa ku lakukan, aku
selalu berpikir positif tentang suamiku. Dalam pikiran ku aku selalu memikirkan
hal-hal positif tentang suamiku, ‘dia sibuk, dia gak pulang karena dia sibuk.
Dia kan selama ini banyak kerjaan, paling dia menyelesaikan pekerjaanya’
kata-kata itulah yang selalu keluar dari pikiranku. Malam ini aku tidur sendiri
lagi, suamiku seperti sebelumnya tidak
pulang. Tapi aku tetap berpikir positif, aku percaya suamiku menyayangi aku dan
anak-anak ku. Hari demi hari seperti itu terus, tak pulang, selalu marah-marah
dan berani main tangan terhadapku.
Entah apa salahku, entah karma apa yang
ku jalani, entah dosa apa yang sudah kulakukan dulu sehingga aku menanggungnya
hari ini, suatu malam,tepat di malam minggu suamiku dirumah, ia mengatakn
padaku kalau dia akan kedatangan teman-teman sekerjanya. Berkata seperti itu
aku menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan teman-temannya, aku
masak, buat makanan ringan, menyiapkan minuman. Aku membersihkan rumah sebersih
dan serapi mungkin agar teman suamiku merasa betah di rumahku.
“ma, nanti kawan ku mau datang, kata
orang itu mau main aja, ngumpul-ngumpul..”
“oya, siapa itu pak?”
“nanti juga tau..”
“ ya udah, kalau gitu mama buatin
makanan buat mereka dulu ya ..”
Sejam kemudian, terdengar suara motor,
sekita 5 motor berhenti di depan rumahku, suamiku keluar menyambut
teman-temannya yang sudah sampai. Mempersilahkan masuk yang kemudian aku juga
ikut menyambut dan menyalami mereka satu persatu.
“wah, cepat nyampek nya. Masuk-masuk..!
bgitulah suamiku menyapa mereka
Aku melihat ada 10 orang semua, 3
wanita dan 7 laki-laki, aku juga melihat mereka membawa makanan, yang entah
dalam acara apa aku tidak tau. Aku kemudian bergegas menyiapkan dan
menghidangkan semua yang sudah kusiapkan di depan mereka.
“bung, ini istriku bung..”
“oh iya, hallo kak aku jhon temannya
abang ini..”
“hehe iyaa, aku merry..”
“mana anak-anak kak..?”
“oh mereka udah tidur, biasalah
kecapekan main tadi siang..”
“hahaha,, anak-anak memang seperti itu kak,
sama lah kayak anak ku..”
Aku ngbrol sebentar dengan temannya,
lalu kembali lagi kedapur karena aku tak ingin mengganggu kesenangan suamiku.
Di sudut dinding di pojok ruang tamuku,
aku melihat ada seorang wanita, yang aku tidak tau siapa namanya, dia hanya
memandangku dengan ramah, ia senyum kepadaku, ia menhampiriku dan membantu ku
menhidangkan makanan.
“ sini kak, aku bantu ya,, aku dewi
kak..
“oh, iya, terima kasii, aku merry..”
Ia membantuku sampai selesai sehingga
tak sedikit kami gunakan juga untuk ngbrol, bertukar pengalaman, tertawa,
suasana ceria lah waktu itu.
Seperti kukatakan tadi entah apa yang
ku hadapi, entah karma apa yang kuterima, entah dosa apa yang sudah kulakukan
dulu sehingga aku harus menanggungnya hari ini, malam semakin gelap. Jam sudah
pukul 02-45, tetapi mereka belum pulang. Aku tidak melihat suami ku di mana,
dia tidak ada di tengah-tengah teman-temannya yang sedang mabuk dan tertidur,
ada juga yang muntah-muntah. Anak ku terbangun, dan untung nya ia tidur lagi
karena aku tak ingin anakku mengetahui apa yang ada di luar sana. Suamiku,
suamiku ntah di mana. Tak berpikir panjang aku menuju kamar ingin tidur.
Seperti tersambar petir, seperti di lempari kotoran, seperti menerima
penghianatan, jantungku berdegup kencang dan tak karuan, air mataku jatuh
melihat kejadian di depan ku, bibirku gemetar, tubuhku gemetar, suatu hentakan
dahsyat seperti menghantam kepalaku, darahku naik, semua tegang, semua kaku,
hancur, kejadian yang ada di depan ku membuatku tak ingin hidup, aku melihat
suamiku bercumbu dengan wanita itu, wanita yang sudah akrab dengan ku bahkan
aku banyak cerita padanya. Bergelut layaknya suami istri melakukan hubungan
dengan mesranya, di tempat tidurku, di tempat yang setiap malam ku habiskan
dengan suamiku, di tempat aku dan suamiku bermanja ria, tertawa ria, bertengkar,
yang kemudian kami selesaikan di kamar
ini, tempat yang kuhabiskan sehingga aku memiliki 2 anak sampai saat ini.
Di tempat itu, di tempat itu aku
menyaksikan kesakitan hati yang membuat ku meneteskan air mata. Membuatku
sakiiit, sakiiit yang tak tertahankan. Aku kuat kan tenagaku untuk mampu
berjalan meninggalkan kamar, aku berjalan menuju sudut dapur, duduk di pojok
dekat meja makan, di situ aku duduk menangis dan membayangkan kesakitan yang ku
alami malam itu. Menangis, menangis menangis dan menangis saja yang dapat
kulakukan. Apa salah ku, apa kurangku kenapa suami yang aku cinta, dan
menyayangiku dan anakku, berubah seperti itu, kenapa?? Isak tangis ku memenuhi
malam yang semakin gelap, karena tak ingin di dengar aku keluar rumah duduk
kembali di belakang, jeritan hatiku ku luapkan di belakang rumah yang gelap dan
banyak nyamuk. Aku duduk diam, kosong gak ada yang di pikirkan, sesekali air
mataku jatuh, ingin sebenarnya marah, dan menampar dan mencaci maki itu
perempuan, tapi gimana, toh itu juga keinginan suamiku, dan ketidak berdayaan
ku. Dengan langkah yang berat aku menuju kamar anakku, ku baring kan tubuhku,
ku peluk anakku kembali aku menangis, memikirkan suamik bersama wanita lain di
kamarku dan suamiku. Sambil menahan kesakitan hatiku, aku mencoba tidur,
meskipun hati berkecamuk di dalamnya.
Aku dengar suamiku dan wanita itu
keluar kamar setelah beberapa jam. Aku hanya diam dan berpura-pura tidur ketika
suamiku membuka pintu kamar anakku, mungkin ia ingin mengetahui aku di mana.
Satu malam aku tidak tidur, pikiranku hanya pada suamiku, dan diriku sendiri,
aku mencoba mencari kesalahan-kesalahan apa yang aku lakukan terhadap suamiku
sehingga suamiku berani berbuat seperti itu kepadaku dan anak-anakku.
***
Anak-anakku semakin hari semakin besar,
mereka sudah mengetahui mana yang salah dan mana yang benar. Hari-hari yang ku
lewati semakin sulit, hidupku di penuhi kecurigaan terhadap suamiku sejak
kejadian malam itu. Suamiku jarang pulang, main perempuan, aku sering di pukul,
aku sering tidak di perhatikan, ia memiliki sebuah rumah yang jauh dari rumahku
yang ia dapat dari seseorang karena tak sanggup membayar hutang-hutangnya. Di
situ ia memiliki wanita yang sering dia bawa ke rumah itu.
Hari itu, suamiku sudah seminggu tidak
pulang, aku curiga, ahir nya aku ngajak salah satu temanku untuk menemani ku
pergi ke rumah yang di dapat suamiku, aku pergi dan masuk kedalamnya, hal
menjijikan ku lihat di dalam rumah itu. Semua pakaian dalam berserakan di mana-mana.
Aku mulai marah, aku melihat suamiku tidur di atas kursi. Aku mendatanginya dan
untuk luapkan semua emosi yang sudah terpendam di hati ini,
“hei,, kayak gini ternyata kelakuan mu,
dasar gak punya etika, sadar pak, kau tu
sudah punya istri dan anak. Kelakuan mu lebih rendah dari BINATANG. “
Banyak kata-kata yang ku keluarkan buat
dia, emosi, sakit, sedih, nangis itulah ekspresi yang ku perlihatkan ke dia.
Suamiku bangun dan menatapku tajam, dia tarik tangan ku dan membawaku pulang
kerumah, anakku sedang bermain di depan rumah, sampai di dalam rumah, suami ku
menamparku, memukulku, dia mengambil kipas angin dan dengan bejatnya di
hantamkan kipas angin tersebut ke tubuhku. Aku menjerit, anakku menangis. Suatu
pemandangan yang menyakitkan bagi anakku. Kemudian suami ku pergi, pergi entah
kemana sehabis memukulku. Aku tidak tahan, aku datangi anakku Immanuel, aku
memeluknya dan dalam pelukan itu aku dan anakku menangis. Karena tidak tahan
dan ingin menyudahi semuanya, aku menelpon orang tua dan kakak ku di kampung.
Dengan keadaan menangis ku ceritakan semuanya kepada kakakku.
“Hallo…!”
“hallo kak, ini aku. Apa kabar kakak di
sana?”
“baik nya kami di sini mer, kenapa kau
nelpon, kenapa juga sama suaramu itu.. ada masalah kau sama suamimu..”
“iya kak, gak tau lagi aku mau buat apa
kak.”
“kenapa emangnya, cerita dulu..”
“yang ku tau kak, dari dulu Reno sayang
sama ku kak, aku senang hidup sama dia. Tapi sejak nuel lahir, gak tau aku
kenapa dia berubah. Di depanku dia dia berani melakukan hal yang gak wajar kak,
jarang pulang, entah nginap di mana, marah-marah. Sakiiittt kak sakit kali
kurasa.”
Dengan isak tangis yang mengharu aku
menangis sejadi-jadinya lewat telpon dengan kakak laki-lakiku itu.
“apanya maksudmu, melakukan apa..
ngmong dulu yang jelas, jangan nangis gak bisa jelas aku dengar apa yang mu bilang..”
“kemaren dia di depanku kak sama
perempuan lain melakukan hubungan. Bukan hanya sekali, udah berkali-kali di
kayak gtu kak. Bantu aku kak, aku udah gak tahan, aku udah gak sanggup…!
“udah berkali-kali, knapa baru sekarang
kau cerita sama kakak… kenapa?
“ aku pikir kemaren kak, aku bisa
menahannya dan menyelesaikannya sendiri tapi ternyata malah makin sakit kak,
makin sakit…”
“BODOH,, di mana suami mu sekarang.??”
“pergi kak..”
Kakak laki-aki ku marah, marah besar.
Keesokan harinya ia menghubungi suamiku lewat telpon, aku gak tau apa yang
mereka katakn sebagai laki-laki. Aku hanya mendengar cerita dari kakak ku. Ia
mengatakan kata-kata yang sangat tidak sopan.
“udah ku hubungi kemarin suamimu yang
kurang ajar itu. Tau kau apa yang di bilangnya..?”
“apa kak?”
“ dia bilang dia kayak gtu karena kau
tak bisa memuaskannya. Bejat dia, tidak punya otak. Tak perlu kau melanjutkan
lagi rumah tanggamu dengan nya, ceraikan dia..”
Aku bisa saja menceraikannya dan hidup
sendiri, tetapi bagiaiman dengan anankku, bagaimana dengan anakku jika hidup
tanpa bapakknya, apa kata teman-temannya kelak. Demi anak, aku mencoba kembali
bertahan mempertahankan pernikahanku.
***
Suatu hari, di suatu malam, tiba-tiba
anakku nuel demam tinggi, suami ku belum pulang, anakku nangis-nagis. Aku lari
ke warung ntuk membeli obat, aku kompres, besoknya ku bawa dia ke puskesmas,
pihak puskesmas mengatakan anakku hanya demam biasa yang kebanyakan anak-anak
alami. Suamiku yang tahupun tidak peduli.
“ah, Cuma demam biasanya, gak papa itu,
ntar juga sembuh..”
“ bapak koq gtu ngmongnya, ya walaupun
demam biasa tapi itu berat untuk dia pak..”
“kasi aja obat, sembuh itu!!”
Sudah dua minggu anakku tidak
sembuh-sembuh, aku semakin takut, badannya semakin kurus, suami ku lagi-lagi
tak peduli, aku marah, aku hanya bisa menangis. Suamiku yang semakin parah kelakuannya
membuatku semakin ingin mati, melihat anakku yang menderita membuatku semakin
sakit. Aku ingin penyakitnya pindah ke tubuhku, aku tidak tahan melihat dia
menderita seperti ini, gak tahan. Semua pengobatan sudah kulakukan, tapi semua
mengatakan hanya demam, apa mereka BODOH!! Aku tidak terima hidup kayak gini,
kenapa TUHAN berlaku tidak adil padaku.
Suamiku yang tidak pulang-pulang
membuatku semakin marah, apa maunya, di mana kepeduliannya, di mana letak hati
dan perasaannya, “anakmu sedang sakit pak, tolong perhatikan dia, dia anakmu,
dia butuh kamu,,,”
Dengan di bantu orang tua dan mertuaku
anakku nuel di bawa kerumah sakit untuk di opname, di opname agar tahu penyakit
apa sebenarnya yang sedang dia alami. Aku menunggu dengan rasa kawatir yang
tinggi, menunggu dalam kegelisahan, kesedihan mencekam karena kelakuan suamiku.
Apa yang dapat kulakukan? Aku hanya diam, diam dan diam. Demi anak-anakku.
TO
BE CONTINUE…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar